![]() |
| perjuangan belum berakhir |
Tembalang, 10 November 2009, Upacara Bendera memperingati Hari Pahlawan tanggal 10 November di lingkungan Kampus Undip Tembalang, Selasa (10/11, berlangsung cukup khitmad. Upacara yang dipusatkan di halaman Gedung Widya Puraya, dipimpin langsung Komandan Upacara Prof Dr Soesilo Wibowo, selaku Rektor Undip.
Dibandingkan upacara serupa, yang sering dilakukan di kampus terbesar di Jawa Tengah, upacara kali ini masih kurang mendapat perhatian dari seluruh karyawan, baik dosen maupun tenaga adminsitrasi yang ada di lingkungan Undip.
Terbukti, masih banyak ruang lapangan yang kosong dari peserta upacara. Puluhan bahkan ratusan pegawai yang terlambat datang juga terlihat malas-malasan untuk masuk ke area lapangan upacara. Sebaliknya, mereka lmemilih duduk-duduk dan ngobrol di pinggir jalan.
Budaya tidak menghargai dan menghormati peringatan hari-hari besar yang memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi dan mulia sebagai hasil pengorbanan para pahlawan itu tampak juga terlihat pada saat berlangsungnya upacacara. Dimana, barisan peserta upacara yang semrawut.
Tidak hanya itu, saat pengibaran Bendera Sang Saka Merah Putih berlangsung yang diiringi lagu Indonesia Raya, sikap para peserta upacara juga semau gue, sehingga terkesan hanya merupakan sebuah kewajiban yang formalitas belaka.
Begitu pula pada saat pembacaan Pancasila, Pembukaan UUD'45, yang semestinya bersikap resmi, para peserta upacara juga banyak yang bersikap santai bahkan ngobrol sendiri. " Fenomena ini pertanda lunturnya rasa nasioanlisme, patriotisme dan rasa cinta kepada tanah air. Bagaimana tidak, hanya diminta ikut upacara saja banyak yang tidak hadir. Kalaupun hadir, tidak melakukan dengan sungguh-sungguh. Ini yang namanya dekadensi nilai-nilai cinta tanah air. Padahal, Pegawai Negeri Sipil (PNS) mestinya menjadi tauladan yang baik dimata masyarakat," ujar salah seorang peserta upacara dengan prihatin.
Akankah budaya buruk seperti ini akan terus dipertahankan dan dikembangkan di kampus kebanggaan milik Bangsa ini. Jika para pegawai yang dijadikan contoh panutan para peserta anak didik memili jiwa dan semangat yang loyo, lalu apa jadinya nasib para mahasiswa, yang menjadi generasi penerus bangsa ini?.
Rektor Undip, Prof Dr Soesilo Wibowo sendiri, dalam sambutan pengahan juga hanya membaca sambutan tertulis menteri sosial. Dia tidak menyinggung atau mencobamengorelasikan antara nilai - nilai sejarah perjuangan para pahlawan dalam merebut dan mempertahankan kedaulatan tanah air Indonesia, dengan nilai-nilai, jiwa, semangat dan etos kerja yang harus dikembangkan di Undip, sebagai sumbangsih buat bangsa dan negara tercinta ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar