Indonesia kembali memanas, pelakunya tak lain dan tak bukan adalah Malingsenga atau yang dalam dunia internasional lebih dikenal sebagai Malaysia. Terlepas apakah ini bersifat politis atau bukan yang pasti saya sebagai anak Indonesia merasa terbakar emosinya.
Bukan sekali dua kali Malingsenga berulah tapi buanyak (dalam bahasa jawa buanyak berarti sangat banyak). Berikut beberapa fakta tentang Malingsenga yang saya ketahui :
- Malingsenga Negara maling, sudah menjadi rahasia umum bahwa buanyak kekayaan Indonesia yang dicuri oleh Malingsenga. Mulai karya seni sampai kekayaan alam yang tak terhitung jumlahnya.
- Malingsenga Negara sekuler, masyarakat Islam di Negara Malingsenga termasuk yang cukup kuat keIslamannya tetapi di lain pihak masyarakat Malingsenga juga termasuk masyarakat yang hedonis. Jika anda pernah ke Malingsenga, anda akan mendapati adanya dikotomi (pemisahan) antara masyarakat Islam dan non Islam, melayu dan non melayu (keturunan Cina). Jadi tidak usah heran jika di suatu tempat aura Islam cukup kuat tapi di lain tempat aroma Maksiat sangat pekat.
- Malingsenga Negara rawan, Maling senga memang bukan Negara produsen Napza (narkotika, psikotropika dan zat aditif lainnya) tapi Maling senga merupakan Negara yang cukup diwaspadai dalam peredaran napza sebab Malingsenga merupakan Negara transit. Dalam dunia kriminal internasional Malingsenga bertindak layaknya kiper (penjaga gawang) dalam sepak bola yang berusaha mati-matian supaya tidak kemasukan tapi tidak memperdulikan ke mana bola tersebut mental. Pengawasan aparatur Malingsenga terhadap kejahatan seperti seorang kiper, jangan sampai masuk Malingsenga tanpa perduli ke negara mana kejahatan tersebut beralih (termasuk Indonesia) sepanjang bukan ke Malingsenga, urusan selesai.
- Malingsenga Negara terroris, Indonesia kembali dilanda terror bom dan sudah banyak yang jadi korban. Sudah ada pelaku terror yang ditangkap dan dieksekusi tapi terror jalan terus, mengapa? Sebab yang menjadi otak terroris (dalam bahasa betawi disebut dedengkot) belum tertangkap. Azhari memang telah mati ditembak saat penyergapan tapi rekannya Noerdin N Top masih berkeliaran di Indonesia. Sudah bisa ditebak mengapa saya mengatakan Malingsenga sebagai Negara terroris, sebab yang menjadi dalang terror di Indonesia adalah (orang) Malingsenga.
- Malingsenga Negara yang belum merdeka, Malingsenga adalah Negara yang berada di bawah persemakmuran kerajaan Inggris. Malingsenga merdeka bukan atas perjuangan rakyatnya tetapi lebih kepada hadiah dari kerajaan Inggris, akibatnya malingsenga berada di bawah naungan kerajaan Inggris. Secara de jure (hukum) boleh saja Malingsenga berstatus merdeka tetapi secara de facto (faktanya) Malingsenga tak lebih dari pada (anjing) antek-antek Inggris. Hal ini bisa dilihat dari bahasa resmi Malingsinga ada dua termasuk bahasa Inggris, dan boleh jadi Malingsenga berani berulah dengan Indonesia karena Malingsenga didukung oleh Inggris dibelakang mereka.
Ada pepatah mengatakan “ada gula ada semut” artinya ada Inggris ada Amerika. Jadi jika anda masih bertanya-tanya mengapa Indonesia tidak melakukan perang frontal dengan Malingsenga (bisa jadi) itu karena pemerintah kita memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya, melawan Malingsenga = melawan Inggris = melawan Amerika. Bisa anda bayangkan bila Indonesia berperang melawan Malingsenga, Inggris dan Amerika? Silahkan anda lihat Afganistan atau Irak. Katakanlah Inggris dan Amerika tidak turut campur secara langsung dalam peperangan antara Indonesia dengan Malingsenga tetap saja mereka membantu dalam bentuk yang lain. Selain itu apakah rakyat Indonesia siap untuk berperang? Jangankan berperang mengorbankan harta dan jiwa, berpuasa saja berat. Ada hadits yang (kurang lebih) mengatakan “ada jihad yang lebih besar (puasa) dari pada jihad yang baru kita lalui (perang badar)” tetapi hadits tersebut diindikasikan sebagai hadits palsu. Saya bukan ahli hadits jadi saya tidak akan membahas mengapa hadits tersebut diduga palsu.
Demikian tulisan ini saya buat sebagai aksi atas tindakan Malingsinga yang saya anggap telah melewati batas dan zalim. Jika kamu melihat suatu kezaliman, maka ubahlah dengan tanganmu (kekuasaan), tetapi jika kamu tidak mampu maka gunakan kata-katamu (termasuk tulisan), namun jika kamu juga tidak mampu maka cukup dengan hatimu dan itu selemah-lemahnya iman. Saya bukan seorang yang kuat tapi juga bukan seorang yang lemah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar